Jual Kamboja Kering Dan Basah

Pohon kamboja, khususnya kamboja berbunga putih (Plumeira alba), masih dipandang sebelah mata. Sebab, kebanyakan tanaman ini tumbuh di kuburan. Tidak jarang, orang menyebutnya sebagai bunga kuburan. Bunganya yang telah dikeringkan, lantas ditumbuk halus, banyak dipakai sebagai bahan baku wewangian, kosmetik, industri kerajinan dupa, spa, serta teh herbal. Untuk harga perkilo, kami tidak mematok harga paten dikarenakan harga yang tidak stabil dan berubah sewaktu-waktu. Jika anda berminat, silahkan hubungi kami atau jika anda ada di Banjarmasin, bisa datang langsung ke tempat kami.
Dikirim oleh : Kamboja Kering, banjarmasin, 081334232727 | Kunjungi Website

Dijual Rumah ada sarang Walet-Tulungagung

Dijual Rumah Murah ada sarang Walet lengkap Dengan Instalasi Speaker, lb 90m2 sarang walet 3x7m diatas ada kolam, rumah monyet untuk walet 2x2m. Harga 175juta tanpa perantara Bila ada yang berminat langsung hubungi kami
Dikirim oleh : Rumah Murah, Bangoan kedungwaru Tulungagung, 081351015777 | Kunjungi Website


  • Peluang Bisnis Perhiasan Sebagai
    Bisnis Utama Maupun Pelengkap Bisnis Anda
    Modal Terjangkau


    Caranya sangat mudah…
    Cukup GABUNG SEKARANG JUGA!!!

    perhiasan online

    SUDAH TERBUKTI!!!
    * Gratis Promosi Online

    PAHLAWAN NASIONAL PERTAMA


    Jakarta - Tidak banyak yang tahu tentang Abdul Muis. Kita, khususnya warga Jakarta mungkin hanya mengenalnya sebagai nama jalan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Secuil jalan sepanjang 3 kilometer itu berdampingan dengan kali kecil, dikangkangi deretan gedung-gedung strategis seperti Kementerian Perhubungan. Sementara pecinta sastra mengenal Abdul Muis sebagai pengarang novel legendaris, Salah Asuhan, pada 1928.

    Hanya segelintir orang tahu, pria kelahiran Sungai Puar, Sumatera Barat 3 Juli 1883 ini merupakan tokoh pertama yang ditetapkan pemerintah sebagai Pahlawan Nasional. "Tepatnya tahun 1956," ujar Direktur Kepahlawanan, Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial, Kementerian Sosial, Suyoto kepada Tempo, Rabu (10/10).

    Presiden Soekarno menyematkannya gelar pahlawan berkat sepak terjang pujangga itu dalam mendesak Pemerintah Kolonial Belanda untuk memberi kemerdekaan pada Indonesia. Lewat Sarekat Islam, Abdul Muis mengajak anggotanya untuk mempersiapkan langkah kekerasan untuk merebut kemerdekaan, jika jalan damai terus gagal.

    Dia memimpin demonstrasi besar di Yogyakarta, pada 1922. Gentar akan kepemimpinannya, Belanda menangkap Abdul Muis dan membuangnya ke Garut, Jawa Barat. Dia menetap di Jawa Barat sampai hari terakhirnya, 17 Juni 1959.

    Saat ini, Suyoto melanjutkan, Indonesia memiliki 147 Pahlawan Nasional. Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Penghormatan masih rembug membahas sepuluh kandidat pahlawan baru. Diantaranya Mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, Mantan Presiden Abdurrahman Wahid dan Soeharto.

    Cek Online Tagihan Listrik